Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Doktrin Pembenaran Dan Pengudusan - Dogmatika Kristen

Friday, May 27, 2016

Doktrin Pembenaran Dan Pengudusan

Perspektif Johanes Calvin tentang pembenaran dan pengudusan ~ Johannes Calvin adalah seorang pemimpin reformasi di Genewa dan sangat unggul di kalangan teologi-teologi reformed. Awalnya, ayahnya mempersiapkannya untuk menjadi seorang imam, karena itu ia dikirim ke Paris untuk mempersiapkan diri untuk masuk fakultas teologi (1523-1528). Tetapi karena terjadi perselisihan antara ayahnya dengan keuskupan Noyon, sehingga Calvin dipindahkan ke Orlean dan sesudah itu ke Bourges untuk belajar hukum. Tetapi pada tahun 1531 ia kembali ke Paris untuk belajar bahasa Yunani, Latin dan Ibrani, serta kesusastraan. Akan tetapi kehidupan religiusnya telah bertumbuh dan berkembang sebelum ia berumur 25 tahun. Pada tahun 1558, ia mengungkapkan pengalaman rohaninya dengan pernyataan: “God by a sudden conversion subdued my heart to teachableness.”[1]

Teologi Calvin berpusat pada kemuliaan Allah (gloria Dei) sebagai tujuan utama dari segala-galanya, baik untuk Allah maupun untuk manusia. Di dalam hidupnya, ia selalu menghadirkan Allah dalam pengertian-pengertian dan perasaannya, yang menerima penyembahan dan pelayanannya, yakni Pencipta segala sesuatu. Allah yang menjadi sumber kebenaran dan kekuatan manusia, Penyelamat dan yang mengilhami pemilihan-Nya terhadap orang-orang pilihan.

Berhubungan dengan penekanan pada kemuliaan Allah, Calvin sangat menekankan kelahiran baru (regeneratio) atau pengudusan (santificatio) yang harus menyertai pembenaran (justificatio) orang berdosa. Menurutnya, manusia yang dibenarkan wajib menampakkan imannya dalam perbuatan-perbuatan yang berkenan kepada Allah, sehingga pengudusan orang percaya bukan merupakan suatu pemberian yang menyertai pembenaran orang percaya, tetapi suatu anugerah khusus dari Allah bagi orang-orang yang juga telah dibenarkan-Nya.



Di dalam tulisan ini, penulis akan membahas “relasi antara pembenaran dan pengudusan orang percaya”. Untuk mencapai tujuan penulisan ini, maka penulis memberikan beberapa pertanyaan penuntun dalam pembahasan tema ini. Pertama, bagaimanakah pandangan Calvin tentang pembenaran dan pengudusan? Kedua, bagaimanakah relasi antara keduanya dalam kehidupan orang percaya? Ketiga, dalam hal apakah pembenaran dan pengudusan itu menjadi nyata dalam kehidupan orang percaya?

Pengertian Calvin Tentang Pembenaran
Calvin mendefinisikan pembenaran sebagai suatu penerimaan yang melaluinya Allah menerima kita ke dalam kasih karunia-Nya dan menghargai kita sebagai pribadi yang benar; pembenaran ini terdiri atas penghapusan dosa dan pembenaran di dalam Kristus. Pembenaran orang percaya merupakan tindakan sukarela Allah, yang dengannya Ia bermurah hati untuk mengampuni semua kejahatan kita.[2]

Di dalam Institutes Calvin memahami pembenaran tindakan Allah di dalam Kristus yang membenarkan dan menguduskan orang percaya. Ia menyatakan, Christ given to us by the kindness of God is apprehended and possessed by faith, by means of which we obtain in particular a twofold benefit: first, being reconciled by the righteousness of Christ, God becomes, instead of a judge, an indulgent Father; and, secondly, being sanctified by his spirit, we aspire to integrity and purity of life.[3]

Di dalam pandangan Calvin, pembenaran dapat menjadi lebih bernilai di dalam hubungannya dengan kemurahan Allah dimulai dari waktu pemanggilan orang-orang percaya sampai kepada kematiannya. Di dalam hal ini, ia menunjuk kepada kebenaran Kristus yang diperhitungkan sebagai kebenaran orang percaya, di mana melaluinya kita dijauhkan dari penderitaan dan penghukuman Allah. Sehingga dengan demikian, kita tidak lagi dipandang sebagai orang yang berdosa, tetapi orang benar karena Kristus.[4]

Dengan demikian pengertian Calvin mengenai pembenaran mengandung dua aspek, yaitu pertama, orang percaya menjadi diperdamaikan oleh pembenaran Kristus, di mana Allah berdiri sebagai, dari seorang hakim, menjadi seorang Bapa yang pemurah. Ia menghapuskan dosa manusia berdosa dan menjadikan mereka benar karena kebenaran Kristus. Selanjutnya, orang percaya menjadi dikuduskan oleh Roh-Nya, sehingga hidupnya dijadikan sempurna dan murni.




[1] J.T. McNeil, “Calvinism, Calvin”, dalam The WestminsterDictionary of Christian Theology, (ed.) Alan Richardson dan John Bowden (Philadelphia: The Westminster Press, 1983), 79.

[2] J. Graham Miller, Calvin’s Wisdom (Edinburgh: The Banner of Truth Trust, 1992), 181.
[3] John Calvin, Institutes of the Christian Religion, vol. 3, (Terj.) Henry Beveridge (Grand Rapids: WM. B. Eerdmans Publishing Company, 1997), 36.
[4] John Calvin, Calvin’s Commentaries, The Epistles of Paul the Apostle to the Romans and the Thessalonians, (Terj.) Russ Mackenzie (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1991).

No comments:
Write komentar