Translate

Mengenal Ajaran Hyper Grace 1

Mengenal Ajaran Hyper Grace – Saat ini sebagian gereja-gereja di Indonesia “heboh” soal pengajaran (baru) tentang Hyper Grace. Berbagai diskusi, seminar mulai digelar untuk membicarakan, menelaah apa isi ajaran ini. Saat ini kita hidup di suatu era dimana dunia terus berupaya menyajikan kemudahan,kenyamanan, kepuasan dan ketentraman bagi manusia. Pada saat yang sama, di dunia rohani telah berkembang suatu ajaran yang sama dengan karakter tersebut.

Apa Itu Radical Grace?
“Radical Grace” ajaran kasih karunia yang mudah dicerna dan diterima logika, memberi memotivasi dan inspirasi, berpandangan positif dengan menghindari segala hal negatif yang bersifat memberatkan, menyengsarakan, menuduh, menghakimi dan menuntut seseorang. Bagi jemaat awam tentu pengajaran ini mudah memikat mereka.

Siapa Tokoh Radical Grace?
Ajaran “kasih karunia” yang biasa disebut “Grace Revolution, Gospel Revolusion atau pun Radical Grace/Hyper Grace”, dikembangkan dan dipopulerkan oleh Joseph Prince, Gembala Senior di New Creation Church, Singapura.


Referensi Kepenulisan.
Buku “Destined to Reign” (Ditakdirkan untuk Berkuasa) menjadi acuan artikel ini adalah salah satu bukunya yang terkenal membahas pemahaman tersebut. Pada saat buku ini ditulis tahun 2007 jumlah jemaatnya mencapai sekitar 19.000-an jiwa , sekarang diperkirakan mencapai 30.000-an jiwa.

Apa Itu Hyper Grace?
Sedangkan “Hyper Grace” adalah meminjam istilah yang dimunculkan oleh Dr. Michael Brown dalam bukunya “Hyper-Grace: Exposing the Dangers of the Modern Grace Message (2014).” Buku ini menanggapi dan mengkritik ajaran kasih karunia “Grace Revolution" yang menurutnya kacau, melebihi dan melenceng dari apa yang diajarkan oleh Alkitab.

A. Ajaran Radical Grace/Hyper Grace. 
Secara keseluruhan “radical grace” yang banyak diurai dalam buku “Destined to Reign” (sebagai kutipan selanjutnya di singkat DTR) membahas tentang “keselamatan adalah kasih karunia dan dampak kasih karunia bagi kehidupan orang percaya” dengan muatan-muatan ajaran sebagai berikut:

1. Kasih karunia bersifat semua dan selamanya.
Konsep dasar kasih karunia “radical grace” di dasarkan pada kata “segala dan selama-lamanya” yang ada di Kolose 2:13 dan Ibrani 10:14. Kolose 2:13 “Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita”. Selanjutnya Ibrani 10:14: “Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan”.

Berdasarkan ayat-ayat itu, “radical grace” mengajarkan bahwa kasih karunia bagi penebusan dosa bersifat semua dan selamanya, yang berarti setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, maka semua dosanya sudah diampuni. Baik dosa keturunan, dosa yang diperbuat di masa lalu, dosa yang diperbuatnya saat ini dan dosa yang belum diperbuatnya di masa yang akan datang.

Ajaran Joseph Prince Tentang Dosa.
Joseph Prince mengatakan, “Semua dosa anda – di masa lalu, masa kini, dan masa depan – sudah dibasuh oleh darah-Nya yang kudus. Anda sepenuhnya diampuni saat Anda menerima Yesus ke dalam hidup Anda. Anda tidak pernah lagi dianggap bertanggung jawab atas dosa-dosa Anda. Anda telah dibenarkan sama seperti Yesus bukan karena tingkah laku Anda sendiri, melainkan iman kepada-Nya dan karya-Nya yang sempurna di kayu salib (DTR, hlm. 2.)”.

Melalui konsep dasar ini kemudian dibangunlah pemahaman-pemahaman lain yang sebenarnya juga lahir atau merupakan konsekuensi logis dari apa yang diyakininya tersebut:

a. Orang percaya tidak perlu bertanggungjawab dan minta ampun atas dosanya sekarang.
Ajaran “radical grace” menyebutkan bahwa orang percaya tidak perlu lagi bertanggung jawab atas dosa-dosanya yang diperbuatnya sekarang dan meminta ampun karena secara otomatis sudah diampuni”. Kita tidak perlu mengakui dosa-dosa kita supaya kita diampuni.

Kita mengakui dosa-dosa kita karena kita sudah diampuni. Jika saya mengatakan “mengakui dosa-dosa kita”, saya sedang berbicara tentang bersikap terbuka kepada Tuhan. Saya tidak pergi ke hadirat-Nya untuk memohon pengampunan. Tidak, berbicara kepada-Nya karena saya mengetahui bahwa saya sudah diampuni (DTR, hal.101-102).”